Queen and The White Boy

The Lost Princess

devushka_lico_tayna_risunok_temnota_1401x1051.jpg

Seorang puteri dari negara yang kalah perang. kabur menyamar menjadi budak.

Gadis feminim yang berubah 180 derajat, menjadi pria yang sangat gagah

Berjalan jauh menuju gunung di sebelah timur, mempelajari pedang dan taktik

berperang.

Dunia itu sangat luas. magic? ilmu hitam?sihir? apakah benar-benar ada?

dia membutuhkan seorang pengikut. Legenda seorang Ilena  yang bijak.

Gadis itu mencarinya hingga keujung dunia.

Ntah berapa banyak ILena yang tersisa.

Membalaskan dendam adalah tujuan awalnya

Kebajikan akan bertumbuh seiring berjalannya waktu

Kau berlatih untuk mendapatkannya

Ntah 1 tahun 2 tahun, bahkan mungkin seumur hidup kau baru bisa mendapatkannya.

Bertahan hidup adalah hal yang kulakukan.

wanita itu berguru di sebuah desa kecil di balik gunung.

belajar berpedang dan membaca banyak sekali buku.

ntah buku berperang, buku moral, buku cerita rakyat, mitos bahkan legenda.

wanita itu sangat polos, mempercayai mereka semua.

Genre: Fantasy, Romance, Fiction, Supernatural, 16+

Sinopsis:

Aku adalah manusia!

Ntahlah aku hanya anak angkat dari seorang pria tua, petapa di gunung, Ser Grey

Tak tahu darimana aku berasal, lebih lagi aku tak pernah sekalipun memandang wajah orang tuaku. Ayahku, petapa di gunung, menemukanku di kaki gunung. Setidaknya aku mengetahui hal itu. Aku tak ingin mengetahui bagaimana aku bisa disana? bagaimana aku bisa bertahan disana sewaktu bayi? kaki gunung adalah hutan kematian, ketika kau bunuh diri disana? tidak satupun bagian tubuhmu yang tersisa bahkan tulangmu.

Aku 10 tahun, menemukan seorang gadis di kaki gunung, di tangga menuju kuil Elm, rumahku. Tak beralas apapun, ia meringkuk kedinginan. jubah coklatnya dipenuhi darah ditutupi sehelai kain merah berlambangkan sebuah simbol di tengah. Gaun sutra putih di balik jubah katun coklatnya, pudar sudah kemewahannya, compang camping tak utuh. Bukan ulah bandit ataupun hewan buas. Tak mungkin mereka meninggalkan tubuh yang utuh, terlebih meninggalkan seorang gadis dan sebilah pedang bertahtahkan permata. permata? cukup bodoh meletakkannya di sebuah pedang, mungkin memang hanya logam yang bersinar diterpa cahaya biru rembulan dan lentera-lentera kecil di bagian bawah kuil.

Gadis itu bukan gadis biasa! seorang puteri yang telah ditelanjangi dari gelarnya. Hidup sebagai pelarian, balas dendam adalah keinginannya, kematian adalah jalannya. Matanya menusuk bagai panah, tangannya menatap lurus menuju jantung musuhnya, kakinya tak pernah berkata apapun, hanya menari dengan bebas. Apa yang ia sukai adalah membaca, membaca buku apapun, mencari cara membalas semua orang yang merendahkannya. Dunia ini memiliki banyak cela untuk dikuasai, politik yang membingungkan, kepercayaan/agama yang menyulitkan dan perang yang melelahkan. Menguasai ketiganya adalah kunci kemenangan!. Gadis kecil itu, berusaha menguasainya, terlebih menambahkan keberuntungan sebagai aspek keempat.

Perjalanan turun gunung, mencari aliansi, menguasai tanah tuan-tuan, membalaskan dendam. apakah perjalanan akan berakhir dengan itu? Katanya, ketika kau mencari kau akan menemukan. semakin kau mengetahui, semakin dalam kau tenggelam. semakin dalam kau tenggelam, kau akan menemukan sebuah jurang dengan seutas benalu mengerikan didalamnya.

Dunia ini, aku hidup didalamnya, perang klan-klan munafik, perang atas nama dewa dan perang untuk pembalasan. Prajurit dikorbankan, budak ditambahkan. Tak pernah berhenti apalagi mencapai akhir. Perang hanyalah awalan dari awal kisah. Pengorbanan adalah syarat terciptanya. Keinginan adalah alasan melakukannya. Kepercayaan adalah bara pendorongnya.

Gadis itu percaya pada legenda-legenda yang mustahil. Percaya pada deretan manusia-manusia yang terpilih oleh langit, ntahlah dipilih oleh dewa yang mana! dewa orang Suri, dewa tak bermata, dewa tak bernama, atau dewa-dewa lain. Legenda tentang para Ilena, bawahan setia seorang raja penakluk. Aku? hanya percaya apa yang kulihat, apa yang kudengar dan apa yang kusentuh! penyihir, aku pernah melihatnya, tak lebih dari trik bisu, mungkin. Naga? hanyalah simbol kekuatan!. Titan? hanyalah dongeng sebelum tidur. Peri? hanyalah cerita rakyat. Ras-ras lain? hanyalah karangan. Aku tak pernah melihat apapun seperti itu. hanya hewan-hewan normal, tumbuhan, dan manusia berwajah banyak. Siluman ntahlah mereka tak jauh beda dari manusia-manusia busuk. Ilena? Hanya sebuah cerita di dalam buku. Bukankah dunia ini sangat luas? Ntahlah mungkin suatu hari aku harus mempercayainya!

Benua berbenteng di seluruh tepinya. Dahulu kala benua ini hanya dikuasai satu tangan. Di bawah perintahnya, ia membangun benteng dari utara hingga selatan, melapisi seluruh benua dengan pilar-pilar tinggi. Sekarang? mungkin 900++ tahun telah berlalu. Kerajaan telah terpecah menjadi 7 kerajaan dan 7 klan besar. benteng-benteng telah dibangun di dalam benteng benua!

Kesenangan tak jauh-jauh dari kata kekayaan, kaya akan keping emas, kaya akan makanan dan minuman, kaya akan pengaruh, kaya akan pasukan, kaya akan budak, dan kaya akan seks. Kaya akan agama? tidak berlaku di dunia ini. Kepercayaan akan dewa hanya menyulitkan! Tapi jika kau gunakan itu dengan bijaksana, kau akan memiliki pedang baru.

Darah siapa yang akan tergenang?

Mahkota siapa yang akan terjatuh?

Siapa Ilena?

Siapa Musuh sebenarnya?

Siapa AKU?

 

Gerhana akan segera tiba! Siapkan butir-butir cahaya, karena kegelapan akan menyerang siapapun!

 

Genre : Fantasy, Fiction, Romance, 18+

Legenda tentang Ilena dan kebajikannya.

 

Seorang puteri dari negara yang kalah perang. kabur menyamar menjadi budak.

Gadis feminim yang berubah 180 derajat, menjadi pria yang sangat gagah

Berjalan jauh menuju gunung di sebelah timur, mempelajari pedang dan taktik

berperang.

Dunia itu sangat luas. magic? ilmu hitam?sihir? apakah benar-benar ada?

dia membutuhkan seorang pengikut. Legenda seorang ibrani yang bijak.

Gadis itu mencarinya hingga keujung dunia.

Ntah berapa banyak Ibrani yang tersisa.

Membalaskan dendam adalah tujuan awalnya

Kebajikan akan bertumbuh seiiring berjalannya waktu

Kau berlatih untuk mendapatkannya

Ntah 1 tahun 2 tahun, bahkan mungkin seumur hidup kau baru bisa mendapatkannya.

Bertahan hidup adalah hal yang kulakukan.

wanita itu berguru di sebuah desa kecil di balik gunung.

belajar berpedang dan membacca banyak sekali buku.

ntah buku berperang, buku moral, buku cerita rakyat, mitos bahkan legenda.

wanita itu sangat polos, mempercayai mereka semua.

Perjalanan dan Seorang Pengikut

Aku mengikutinya, seorang wanita yang misterius. sangat tekun. Ntah berapa ratus buku yang telah ia selesaikan di perguruan kami. Ia cantik, begitulah dirinya. Ia lebih tua 5 tahun dariku. umurku 23 tahun, berarti dia 28 tahun. kami bertemu sudah sangat lama 10 tahun lalu. aku menolongnya ketika ia terjatuh di gunung. aku membawanya ke guru tetua. tubuhnya kurus dan pucat. bajunya tak utuh. hanya selusuh jubah coklat yang membuat tubuhnya terjaga tetap hangat.

Aku bahkan tak tahu masa lalunya, dia pendiam pada awalnya, tapi ketika umurnya bertambah ia semakin cerewet seperti anak kecil dan ketika umurnya 20 dia berubah menjadi seorang gadis dewasa. Hal yang ia sukai adalah membaca buku. aku bahkan tak bisa mengganggunya. Buku bagaikan temannya, tiap malam dirinya tak lepas dari buku. Ia bahkan sering menceritakan banyak hal tentang isi buku yang ia baca. Kebanyakan mitos, legenda, dan cerita-cerita masa lalu yang tak masuk akal, tapi bagiku itu sangat menarik. Ntah mungkin karena wanita itu yang membawakan ceritanya. suaranya lembut dan sedikit tegas. seorang wanita feminim yang bertubuh tegap. ksatria wanita.

Bahkan ketika di perguruanku, ia sangat menyukai pedang. sangat ganas ketika ia memegang sebuah pedang. terlebih ketika ia berdansa dengan pedangnya, sangat natural, lincah, terlihat seperti pedang adalah bagian dari tubuhnya. Ntah telah berapa lama ia memegang pedang. Tapi sayangnya, bukankah dia sangat menyeramkan ketika memegang pedang. matanya tajam. wajahnya tak tersenyum. mengayunkan pedang dengan kuat dan sangat cepat, seperti ingin membunuh seseorang. Bahkan wajahnya tak bisa membohongi semua orang di perguruanku. Tak ada kedamaian di ayunan pedangnya. seluruh tekniknya adalah menyerang, tak ada teknik bertahan ataupun melindungi diri. Amarah, sorot matanya sangat jelas menggambarkannya. Bahkan kau tak akan menjadi ksatria hebat jika memiliki sifat itu. pikiran jernih adalah sifat yang paling menguntungkan.

Selama 10 tahun, wanita itu mempelajarinya. kedamaian, ketenangan dan kebajikan. Guru tetuaku yang mengajarinya. Menyuruhnya bermeditasi dan menyuruhnya membaca buku-buku moral, buku-buku kehidupan manusia di masa lalu, buku-buku kegagalan manusia di masa lalu, buku-buku kebajikan. Pencerahan adalah hal yang bisa diberikan guruku kepadanya. Bahkan ayunan pedangnya semakin membaik. Berdansa dengan sangat lembut dengan pedangnya, hal terbaik yang pernah aku lihat. Dewasa dan bijaksana, bukankah wanita itu telah banyak berubah? tak lagi seperti anak kecil yang penuh dengan amarah. Dia lebih dewasa. suka membaca buku tentang sebuah legenda, membaca buku tentang ksatria, membaca buku tentang kerajaan, bahkan membaca buku tentang perang. Ntah mungkin ia ingin menjadi seorang jendral wanita di masa depan.

 

Perjalanan

Wanita itu percaya dengan legenda. Aku tak mengerti kenapa ia sangat ingin mempercayainya. harapan? itulah yang pernah kudengar darinya.

Aku mengikutinya, ntah mengapa aku suka bagaimana ia sangat gigih mempertahankan apa yang ia percayai. keras kepala, mungkin. 10 tahun kami bersama, aku bahkan menganggapnya sebagai seorang kakak, kakak yang benar-benar dewasa, kata-katanya pun tak lagi seorang anak kecil, sangat serius.

Bahkan kata-katanya benar-benar serius ingin mencari kota tua. kau tahu? kota-kota tua sangat menarik baginya? lebih menarik dari buku. kau bisa belajar banyak hal dari kota mati itu. kalau kau beruntung, kau bisa mendapatkan sesuatu yang berharga, emas, harta karun? bahkan lebih dari itu, kau bisa mendapat kebajikan, sebuah ilmu yang sangat berharga.

Dua ekor kuda coklat menemani perjalanan kami. Beberapa makanan ringan, pakaian, koin emas, serta tiga bilah pedang. Selama beberapa minggu kedepan, padang gurun akan menjadi tempat hidup yang tak menyenangkan, angin kencang, tak ada air, badai pasir, jebakan, bandit, ntah apa lagi yang akan kami hadapi. Jika hanya bandit, aku tak masalah, aku hanya tak ingin persediaan kami habis sebelum keluar dari gurun.

Panas, keringat, tubuh memerah, sebuah jubah putih yang telah kotor oleh pasir serta debu, hanya itu yang setidaknya melindungi tubuh kami dari angin gurun. menahan tudung, kami harus melakukannya, untuk melindungi mata kami dari pasir. Menutup mulut dan leher kami dengan melilitkan kain. Bahkan kami mengikatkan kain, melindungi mata kuda-kuda kami. Bahkan saat situasi seperti itu, bandit telah bersiap-siap beraksi.

Kami menyadarinya, selalu ada yang mengintai. Tapi dia mengatakan untuk menghiraukan mereka. Padahal mereka sangat lemah, sangat mudah menghabisi mereka. argh…ntahlah kenapa aku mau mengikuti perintahnya.

Di tengah gurun, mereka menjegat kami, mengelilingi kami dengan pasukan-pasukan lemah, tak terdidik, asal-asalan, beringas, menakutkan? jumlahnya? mungkin puluhan. Argh.. padahal angin sedang merajai tempat itu, melelahkan. Bahkan mereka tak akan menang melawan kami ber-dua. Ntahlah sepertinya mereka tak bisa menilai seseorang dari penampilan. Mereka tak bisa melihat disampingku berdiri dengan tegap seorang ksatria wanita terbaik. Apa mereka tak melihat pedang di punggungnya? pedang itu bukan sesuatu yang biasa. Kau harus melihatnya dulu sebelum kau menyerangnya. Bahkan pedangnya bukan hanya sekedar senjata tajam untuk memotong binatang. Pedang itu dibuat khusus untuk bertarung.

Dia turun dari kudanya, menyingkap tudung. rambut hitam kecoklatannya tergerai oleh sentuhan angin gurun. Mata birunya, terbuka, meskipun tersipitkan oleh situasi saat itu.

“Seorang wanita?”

Mereka tertawa, di gurun, mungkin mereka tak pernah menemukannya. Bukankah barang jarahan terbaik adalah seorang wanita? kau bisa menjualnya atau sekadar memakainya.

“Kau bisa dengar!”, teriaknya. “aku ingin bertemu pemimpin kalian.”

“Siapa pemimpinnya? aku hanya ingin berbicara sesuatu yang manis”, bukankah dia terlalu menggoda? pikirku.

“Hei, apa kalian mendengarnya!”, teriaknya lagi.

Tertawa, mereka hanya tertawa. berbisik kecil di atas gundukan pasir. beberapa meter jaraknya dari kami. Jumlahnya puluhan kali dari kami. Senjata mereka? tak layak, seadanya, barbar, mungkin tak ada teknik apapun yang mereka tau. Ceroboh? mereka sangat ceroboh.

“Hei nona, bukankah kau lelah? aku telah menyiapkan kasur terbaik untukmu, tentu kau harus membayar mahal untuk itu”, Tertawa, mereka tertawa. “Bokongmu, bukankah lebih seksi dari kudamu”,”Bahkan buahmu lebih besar dari benda ini”. menyamakannya dengan flail? bahkan orang selemahmu seharusnya tak mengatakan hal berbahaya seperti itu.

“Aku akan menganggapnya tuan hanya bercanda.”, Jawabnya tenang. “Apa tuan pemimpinnya?”

“Tuan?”, kaget. “Benar, pintar, kau harus memanggilku begitu, kuda betina”.

“Mereka tak bisa diajak bicara”, bisikku, “Bukankah kita harus  bersiap-siap?”

“Ntalah, aku hanya ingin berdamai dengan mereka”. “Aku tak ingin membuang energi untuk hal ini. perjalanan kita masih panjang.”

“Hei cantik, apa yang kalian bicarakan. bukankah kau terlalu lama?”, Teriaknya, “Kemarilah! kudaku!”

Angin semakin bergemuh. Aku merentangkan tanganku, “Tuan, sepertinya badai pasir akan segera datang, bukankah lebih baik anda segera menjauh dari tempat ini?”

“Haha, kau tak perlu mengkhawatirkan kami.”

“Ikutlah dengan kami, Aku hanya memintanya sekali”

“Kak, badai akan segera datang”, bisikku

“Ah”, menarik nafas.

“Hei, kau bodoh! lelaki tua!”, teriaknya “bukankah kau membuang-buang waktumu! Pergilah! bahkan binatang buruk rupa sekalipun tak sudi tidur denganmu”

“Apa yang kau katakan?, teriak pria itu,”dasar wanita jalang! aku akan menikmati tubuhmu, memotong-motong tubuhmu!.”

Pada akhirnyapun, benar-benar terjadi. Sudah kukatakan tak perlu bertele-tele. Mereka tak pernah ingin berdiskusi.

“Aku melihatnya“,bisiknya “Aku akan menyelesaikannya sebelum badai datang.”

Mereka telah melakukan kesalahan. Wanita. bahkan mereka meremehkannya.

Bahkan ia melangkah tanpa ketakutan, melepas pedangnya yang penuh dengan pasir. mengambil kuda-kuda. mengayunkan pedangnya ke depan, bersiap-siap menyerang. Angin gurun, bahkan ia dapat memotong hal itu. Aku akan bertaruh, mereka tak akan bisa menyentuh sehelaipun rambutnya.

 

END Chapter of Bandit

 

Wanita dan Tato

Wanita, ia memiliki tato di seluruh punggungnya, kau tau tato apa itu? itu adalah tato untuk para pelacur, wanita yang dijual dan bekerja di rumah bordil. Saat kecil, aku menemukannya, tubuhnya hanya tertutup oleh jubah yang dipenuhi darah. Wanita itu adalah …

Kami menemukannya the lost city. Wajahnya, ia sangat gembira

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s