Hunt : No One

~unedited version~

“Aku hanyalah sebuah batu yang bergerak dengan bantuan angin.”

Tubuhku, aku membencinya. kurus tak berdaya bertumpu pada kursi roda. seluruh tubuhku tak bisa digerakkan. hanya inderaku saja yang masih berfungsi. untungnya saja aku hidup di abad 22, Manusia telah menciptakan kursi roda yang dapat bergerak sesuai keinginanku, alat ini mengubah sinyal di otakku menjadi sinyal kode yang bisa dimengerti sebuah mesin sekelas kursi rodaku ini.

Abad 22, manusia bergantung banyak pada teknologi. tak ada lagi uang kertas ataupun logam, hanya menyisahkan uang elektronik yang dapat digunukan di seluruh dunia. Penyetaraan, itulah alasan mereka menciptakan sistem ini. Untuk mendukungnya, diciptakan lah suatu benda yang dililitkan di pergelangan tangan, kami menyebutnya ARK. benda ini memuat segala informasi mengenai si pemilik, identitas pribadi, riwayat kesehatan, kartu tanda penduduk, rekening, bahkan kartu ini langsung terintegrasi dengan segala transportasi bahkan account pribadi si pemilik tersebut. Bahkan benda tersebut memiliki bot hologram yang dapat menerima perintah melalui suara sang pemilik. benda ini dapat juga digunakan untuk berkomunikasi dengan sistem android yang dapat mengubah sinyal frekuensi berapapun menjadi text.

Berkat kemajuan abad 22, setidaknya aku masih memiliki kesempatan untuk hidup. Sejak kecil aku hampir menghabiskan seluruh hidupku di dalam kamar bersama mesin-mesin pendukung hidupkku. Aku tak sekolah seperti anak-anak lainnya. aku hanya belajar melalui media penyimpanan buku di ARK yang kumiliki dengan bantuan VR. Aku menyukai buku, membeli buku tanpa sepengetahuan orang tuaku. ya, aku tak berani mengatakannya, keluargaku dapat dikatakan sebagai golongan kelas bawah. mereka telah menghabiskan sebagian besar uang yang mereka hasilkan demi membuatku tetap hidup. seburuk itulah penyakitku. Bahkan karena kondisi keuangan, mereka terlibat pertengkaran dan memilih untuk berpisah.  

Hal yang membuatku menderita adalah kematian ibuku. Bahkan ketika itu, aku sedang asik bermain dengan duniaku, dunia di mana aku bisa berjalan dan menikmati hidup. tetapi di saat itu, aku mendengar teriakan yang mengganggu telingaku. teriakan ibuku. ia memilih untuk bunuh diri, menelan obat dalam dosis besar. aku di sampingnya hanya dapat memandangnya dengan penuh ketakutan, menangis. berteriak-teriak menghubungi ayah, tetangga, bahkan rumah sakit. Tapi mereka datang terlambat. itulah pertama kalinya, aku menyesal mengurung diriku di kamar. itulah pertama kalinya aku menyesal tak membantu ibuku, menghiburnya saat ia menangis. aku bahkan tak pernah mempedulikan keluargaku.

Aku mengurung diriku di kamar, memendam amarahku kepada ayah yang datang terlambat saat itu, menjauhinya. Bahkan aku memilih untuk bersekolah, menghindari bertemu ayahku. bahkan aku memilih asrama untuk menghindarinya. Ayahku pengangguran, sering minum-minum bahkan terkadang membawa wanita ke rumah kami. aku tak peduli. ayah juga ga peduli dengan ku. bahkan ia tak peduli aku memilih asrama untuk menghindari dirinya. ayah hanya mengirimkanku uang tak seberapa jauh dari kata cukup untuk membiayai biaya administrasi sekolahku. pada akhirnya, aku membayar sisanya sendiri. Ayahku sepertinya tidak peduli meskipun aku membiayai sekolahku dengan sisa uang ibuku. Bahkan ketika ayahku menikah lagi dan memiliki anak perempuan, aku tak peduli.

Untuk apa aku tetap hidup? bahkan umurku tahun ini hanya 16 tahun. Bahkan diumurku yang masih remaja ini aku telah mengenal kehidupan gelap orang dewasa. semua berkat ayahku dan kemajuan tekonologi. aku tak dapat membohongi hormon ku sendiri. sejak ibuku meninggal, aku menyukainya, menyukai segala hal yang menyenangkan yang membuat ku kecanduan. minum-minum bahkan aku menyukai film berbau dewasa. mereka semua menghilangkan stress. Apalagi dengan teknologi VR, kenikmatan itu tak dapat ditahan lagi. Meskipun begitu, tubuhku bahkan hanya dapat melihat itu ku berdiri, tangan ku tak dapat menggapainya. yang kulakukan hanya menggesek2annya di bantal. Sejak saat itu, aku benar-benar terlihat lemah dan bodoh, sangat bodoh. setiap malam aku menulis tindakan bodohku dalam catatan pribadi. itulah kegemaranku dulu saat masih mengurung diri, menulis hidupku di kepalaku dan menyimpannya di ARK.

Bahkan ketika sekolah, aku melihat seorang wanita cantik. aku berkenalan dengannya, ketika ia menganggap rendahku. aku menghack accountnya, menjadi pelampiasan nafsuku. ntah aku tak peduli jika ada orang yang mengataiku psikopat. aku membenci wanita seperti itu, tetapi aku menikmati tubuhnya melalu kejauhan. Psikopat bejat.

Tapi jika aku bertemu wanita itu, aku tak berani bertatap muka dengannya. ya aku tak ingin mereka menatap rendah diriku. aku seorang yang penakut, seorang yang benar-benar takut berurusan dengan seseorang. bahkan aku dikenal sebagai pria yang masih polos dan ‘suci’. Ya, mereka tak pernah tau apa yang kulakukan dibelakang mereka. aku memakai topeng yang baik dan putih di depan mereka. bersikap baik, sopan dan menjadi siswa teladan, seluruh waktuku ku habiskan di perpustakaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s